Photobucket

Soekarno, Ali Syari'ati, dan Abdullah Said

Hikmah apa yang bisa kita petik dari Sukarno (1901-1970), Ali Syari’ati (1933-1977), dan Abdullah Said (1945-1998)?.

Menaklukkan Animisme Masyarakat Kab. Paser

Berdakwah di pedalaman Kalimantan membutuhkan tenaga ekstra dan strategi yang jitu. Apalagi masyarakatnya masih animisme.

Pintu Masuk Kampus Hidayatullah kuaro

Kawasan wajib berbusana Islami...

Masjid As-Salam Kampus Hidayatullah kuaro

Tampak dari arah Selatan, samping kiri...

Masjid As-Salam Kampus Hidayatullah kuaro

Tampak dari arah Timur, Arah Depan...

Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Mei 2011

Mengenal Ust. Abdullah Said Secara Ideologis

Abdullah Said saat ini tidak menutup  kemungkinan dikenal sebatas sebagai pendiri Hidayatullah. Mengenai siapa sebenarnya beliau masih cukup jarang barisan muda syabab yang mengenalnya. Uraian berikut mencoba untuk memperkenalkan beliau dari sisi fundamennya.

Abdullah Said muda merupakan sosok yang dinamis dengan segala ‘kegilaan’ idealisme untuk membangun gerakan Islam yang utuh tanpa ada distorsi. Tahapan awal beliau berinisiatif mengunjungi para tokoh Islam dan berbagai pesantren di Jawa. Setelah sekian lama mengembara kian terasa dalam dirinya bawa ada yang kurang tepat dalam mewujudkan Islam yang kaffah.

Minggu, 10 April 2011

Sukarno, Ali Syari’ati dan Abdullah Said

Oleh Hasan Albanna Husain Kallado


Hikmah apa yang bisa kita petik dari Sukarno (1901-1970), Ali Syari’ati (1933-1977), dan Abdullah Said (1945-1998)? Ketiga nama itu sepertinya tak pernah habis menjadi bahan pembicaraan. Padahal, ketiganya adalah sosok yang jelas-jelas berbeda, hidup dalam zaman yang hampir bersamaan namun tetap berbeda. Ali Syari’ati hidup saat Shah Pahlevi sedang berkuasa di Iran. Sukarno hidup dalam zaman Revolusi kemerdekaan Indonesia dari kolonialis Belanda. Sementara Abdullah Said, hadir di zaman awal pemerintahan Orda hingga tumbangnya Orba, saat umat Islam Indonesia mengalami posisi marginal dan stagnan.